Wahai Ibuku Aku Ingin Menjadi Penulis

Selasa, 09 Feb 2021 | 08:56:51 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 339


Wahai Ibuku Aku Ingin Menjadi Penulis
   

disdik.purwakartakab.go.id -- Namaku Sasa, aku masih duduk di kelas IX  di sebuah SMP negeri di desaku. Masa  pandemi Covid-19  yang  sedang kita  alami  saat ini  terkadang  membuatku bingung dalam mewujudkan cita-citaku nanti, semua  seperti  harus  diatur  ulang semua  keinginan atau  cita-citaku.  Selalu  kuingat   sejak  bulan juli  2019  sebelum  virus  Corona menyebar, setiap  hari  jum’at  aku  pasti meminjam buku cerita ke perpustakaan sekolahku  untuk kubaca pada hari sabtu dan minggu   setelah  membantu  pekerjaan ibuku di rumah.

Aku memiliki ibu yang luar  biasa, dia selalu memberiku semangat untuk tidak berhenti membaca  buku cerita  di sekolah dan di rumah. Ibuku menginginkan aku menjadi seorang penulis cerita dan sampai  saat ini  hal tersebut masih menjadi pertanyaan terus menerus bagiku apakah  aku mampu  menjadi seorang penulis. Terasa  sulit bagiku, apalagi teman-temanku  jarang yang  ingin jadi penulis  cerita. Namun  aku harus mencobanya dan ini salahsatu  jalan untuk membahagiakan ibuku.

Pada  suatu  malam  sehabis  salat   Isya,.........“Nak, ibu mengerti  kamu   seperti  tidak  terlalu suka  menjadi  penulis  cerita, tapi  tolonglah  untuk  urusan  membaca  buku  cerita   jangan  kau  tinggalkan” kata ibu menemaniku di sudut kamarku. “Saat  sekolah  cita-cita ibu  dulu  ingin  menjadi  penulis  cerita,  ibu  mempunyai  guru  mahir  menulis cerita, namun  Tuhan mempunyai maksud lain, guru penulis  cerita  tersebut  dipanggil  menghadap  Sang Pencipta lebih  dulu  pada usia  27 tahun, akhirnya  ibu  tidak  bisa  belajar  menulis  cerita lagi, ibu yakin kamu bisa melanjutkan  cita-cita  ibumu ini”  sambung ibu sambil mengusap air matanya. “Iya, bu, aku  akan  mencoba  melanjutkan  cita-cita ibu, aku  akan  rajin  membaca   dan   mencoba  menulis   cerita  dengan  meminta  bimbingan  bapak ibu guruku di sekolah” balasku   dan  di balas  ibu dengan memberikan  pelukan  hangat padaku. 

“Bu,,,,,,,,,,,aku ingin  semua kondisi   kembali  normal   seperti   sebelum virus Corona , bisa  belajar  dan  bertemu  teman-temanku lagi”  tambahku.  “Kamu  harus  sabar  nak,  kamu  terus  berdoa  pada  Tuhan  Yang  Maha  Kuasa  agar  semua  kembali  normal, ,,,,anakku, ibu tidak punya harta yang  banyak, namun ibu  berjanji  akan  menyekolahkanmu  sampai  perguruan  tinggi  karena  amanat  ayahmu  selagi  beliau masih  hidup, almarhum  meninggalkan harta  untuk  biaya  pendidikanmu”  balas ibu dengan memelukku. “Terimakasih, bu, aku janji akan membahagiakan ibu sekuat  tenaga,  aku  akan  mencoba  mewujudkan  cita-cita  ibu  selagi  aku  sehat, do’akan  untukku  bu”  jawabku  sambil  meminta restu. 

Esok harinya aku memberanikan  untuk mencoba  menulis cerita pendek tentang kisah  aku dan ibuku, kuberi  judul  cerpen  tesebut “Wahai Ibuku, Aku Ingin  Menjadi Penulis”  dan akhirnya  aku  beserta  ibuku  bahagia  karena aku mulai  percaya diri  menulis  cerita.

Cerpen  Oleh :  Alya  Zahra  Ocktavia  /  IX  C  SMPN 2 Plered



Kamis, 24 Sep 2020, 08:56:51 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 488 View
KADISDIK APRESIASI PELATIHAN PEMBELAJARAN IPA BERBASIS STEM
Kamis, 24 Sep 2020, 08:56:51 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 613 View
SEKOLAH EKOLOGI PANEN RAYA KANGKUNG
Selasa, 18 Agu 2020, 08:56:51 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 1042 View
Merdeka Belajar SMPN 2 Pasawahan

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE