Makna Alhamdulilah ; Ketika Manusia Tak Layak Dapat Pujian

Senin, 27 Jan 2020 | 15:41:03 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 2982


Makna Alhamdulilah ; Ketika Manusia Tak Layak Dapat Pujian
   

Oleh : Widdy Apriandi 

 

(Penulis adalah pengopi serius sekaligus co-founder saung kopi tajug)

 

 

Ceramah Ustadz Ade Nasrudin, Senin (27/01), di tajug Baitut Tarbiyah, kompleks kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Purwakarta sangat menggetarkan hati. Beliau menyinggung soal makna hamdalah ; alhamdulilahirrabil’alamin. Segala puji untuk Allah, Tuhan semesta alam. 

 

Hamdalah, sepenjelasannya, punya makna yang sangat mendalam. Tidak sekedar lafadz kosong. Melainkan, pejal arti. Hamdalah, tegasnya, adalah pengingat (reminder). Pertama, hamdalah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepadanya untuk segala sesuatu yang ada dan terjadi pada diri kita. Ke-dua, tidak kalah penting, hamdalah menjadi semacam pembatas tegas bahwa tidak ada layak yang mendapat pujian selain Allah.

 

 “Dalam keseharian, tidak jarang kita mendapatkan pujian dari orang-orang. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan pujian itu kepada yang berhak dengan cara mengucapkan hamdalah. Alhamdulilahirrabil’alamin,” jelasnya. 

 

ALLAH SWT PALING BERHAK DIPUJI 

 

Allah SWT adalah tempat segala pujian. Dia yang paling berhak dipuji. Dalam hal ini, singgung Ustadz Ade, ada empat dimensi yang menjelaskan prerogratif Allah SWT sebagai yang paling terpuji, yaitu : 

 

1. Qodiimun Li Qodiimin 

 

artinya memujinya Allah SWT yang kekal abadi kepada diri-Nya yang memang paling berhak dipuji sendiri. Contoh : Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

 

2. Qodiimun Li Hadiitsin

 

Artinya memujinya Allah SWT kepada Manusia (makhluk yang bersifat baru dan tidak kekal). Contoh : Allah memuji Nabi Muhammad SAW. 

 

3. Hadiitsun Li Qodiimin 

 

Artinya Memujinya makhluk yang baru dan tidak kekal kepada Allah SWT yang Kekal Abadi. Contoh : memujinya manusia kepada Allah SWT, diantaranya dengan membaca Tasbih, Tahmid, Takbir dan sebagainya. 

 

4. Hadiitsun Li Hadiitsin 

 

Artinya memujinya makhluk yang baru dan tidak kekal kepada sesamanya. Contoh : memujinya manusia kepada manusia lagi. Pada konteks ini, perlu dingat untuk mengembalikan pujian tersebut kembali kepada Allah SWT dengan cara mengucapkan hamdalah. 

 

ALLAH SWT SANG RABB SEMESTA ALAM 

 

Pada lafadz hamdalah, lanjut Ustadz Ade, diterangkan pula bahwa Dia adalah Rabbal’alamin. “Rabb” semesta alam. Dengan keterangan tersebut, maka semakin jelaslah kebesaran-Nya. Dia adalah segalanya, baik di langit maupun di bumi. Semesta berikut segala isinya. 

 

Beliau menjelaskan, “Rabb” berdasarkan kerangka tafsir mencakup beberapa dimensi. 

 

“Rabb yang merujuk pada Allah SWT mencakup empat aspek, yaitu (1) Dia yang menciptakan, (2)  Dia yang menguasai, (3) Dia yang merawat dan (4) Dia yang memiliki alam semesta berikut isinya,” tegasnya. 

 

Sementara, terkait konteks “alam”, Ustadz Ade menegaskan bahwa Allah SWT adalah penguasa dari seluruh alam yang secara garis terdiri dari lima, yaitu (1) alam ruh, (2) alam rahim, (3) alam dunia, (4) alam barzakh dan (5) alam akhirat. 

 

“Saat ini kita sedang berada di dalam alam ketiga, yaitu alam dunia. Allah SWT lah penguasa seluruh alam tersebut, sehingga tidak ada pujian yang lebih layak selain kepada-Nya,” pesannya. 

 

 

 

Purwakarta, 27 Januari 2020

 

(Ditulis di Saung Kopi Tajug. Mari main ke sini. Jangan lupa jajan, ya?



Kamis, 23 Jan 2020, 15:41:03 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 1439 View
Bismillah, Sebagai Komitmen Ibadah
Rabu, 22 Jan 2020, 15:41:03 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 2649 View
JANGAN CAMPUR TANGAN URUSAN TUHAN
Senin, 20 Jan 2020, 15:41:03 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 828 View
Selamat, Pak Doktor!

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE