Tatanen Di Bale Atikan Ke Kebun Kopi

Jumat, 07 Mei 2021 | 12:12:03 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 150


Tatanen Di Bale Atikan Ke Kebun Kopi
   

Oleh : Widdy Apriandi 

 

(Penulis adalah Redaktur Website Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Sekaligus Pegiat Kopi Purwakarta) 

 

disdik.purwakartakab.go.id -- Konkrit saja, saya menulis ini karena ada tujuan tertentu. Yaitu, saya berharap program “tatanen di bale atikan” bisa punya ‘lahan’ terapan yang lebih luas lagi. Tidak hanya selesai di lingkup sekolah. Melainkan, lebih dari itu ; lingkup luar sekolah yang jauh lebih luas. Sebab, seperti seringkali diutarakan Pak Kadisdik Purwakarta, H. Purwanto bahwa alam semesta adalah pula ‘sekolah’. Malah, ‘sekolah’ yang jauh lebih hakiki. 

 

Sebagai studi kasus : kopi. Belakangan, saya lagi semangat-semangatnya terlibat di fase pasca-panen kopi. Asalnya beragam. Ada kopi dari tanah Bali. Lalu, saya juga dapat kopi dari daerah Garut. Terus, Sumedang. Tidak lupa, ada juga kopi dari region Gunung Burangrang Utara yang ditanami oleh para petani Ds. Kiarapedes. 

 

Bagaimana hasilnya? Yang saya dapati, jujur saja, masih banyak kurang. Ada cacat (defect) pada tiap-tiap kopi. Tingkat keparahan cacatnya beragam. Ada yang masih bisa ditoleransi hingga yang parah banget. Sayang sekali. Sebab, padahal, bila makin minim cacat-nya, harga kopi tersebut bisa makin mahal. 

 

Yang menarik, secara keseluruhan, kontribusi cacat yang ada pada kopi tidak berasal dari pengaruh alam. Hama pengerat buah kopi misalnya, memang menjengkelkan. Tapi, kontribusinya tidak seberapa besar. Alih-alih, yang lebih besar dampaknya adalah perilaku manusia yang memperlakukan kopi itu sendiri. 

 

Ambil kata, pada tahap penanaman, penggunaan pupuk alami dan kimia jelas memberikan dampak yang berbeda. Lalu, pada tahap pemanenan, tindak-tanduk manusia juga berpengaruh terhadap hasil akhir kopi. Sebut saja, apakah buah kopi yang dipetik sudah semua merah (tanda matang)? Atau malah diambil sesuka hati terserah mau buahnya berwarna merah, kuning (belum matang) atau hijau (mentah/muda)?

 

Kemudian, pada tahap pemrosesan (processing) yang juga kental dipengaruhi tangan manusia, perlakuan proses juga berdampak pada kopi. Ambil kata, apakah perlakuan fermentasi dan pengupasan (hulling) buahnya sudah tepat atau justru asal-asalan? 

 

Hingga, di ujung proses, ada tahap pengeringan dan penyimpanan. Lagi-lagi, hal ini berkaitan erat dengan tingkah polah manusia. Apakah pengeringan dilakukan dengan benar atau justru diamparkan begitu saja di jalan misalnya sehingga sangat mungkin tercampur batu atau debu? Kemudian, apakah penyimpanan dilakukan dengan baik atau malah sekenanya sehingga gampang ‘disusupi’ serangga yang bisa merusak kopi? 

 

Karena faktor terbesarnya adalah dari unsur manusia, maka tidak ada solusi lain selain pendidikan--yang bisa merubah manusia menjadi lebih baik. Hemat saya, dalam hal ini, program “Tatanen di Bale Atikan” yang berbasis permakultur bisa diaplikasikan di kebun kopi.

 

Persoalan bagaimana nanti proses adaptasinya, saya kira bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Kendala birokrasi siapa tahu bukan halangan berarti? Termasuk, kebutuhan untuk sinergi lintas dinas (jika dibutuhkan), semoga saja juga tidak jadi beban penghambat. 

 

Pada akhirnya, saya merasa seru saja membayangkan kopi lokal Purwakarta bisa tembus ke pasar dunia. Bersaing dengan kopi-kopi mentereng kelas dunia lain. Jelas, butuh proses dan perjalanan panjang. Tapi, akan lebih panjang dan jadi mustahil bila tidak dimulai segera. Ya?



Rabu, 05 Mei 2021, 12:12:03 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 661 View
Tentang Eco Enzyme, Purwanto : Setetes Air dari Surga
Selasa, 04 Mei 2021, 12:12:03 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 300 View
Ambu Anne Resmikan TKIT Cendikia
Kamis, 29 Apr 2021, 12:12:03 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 236 View
Purwanto : 17,5 Ton Beras Perelek Kaheman Berkah Terkumpul

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE