Menghidupkan Kembali Pendidikan Lingkungan Hidup di Purwakarta

Rabu, 07 Okt 2020 | 11:02:41 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 274


Menghidupkan Kembali Pendidikan Lingkungan Hidup di Purwakarta
   


Oleh: Manpan Drajat

Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi saat ini terjadi tidak hanya di Indonesia namun di belahan bumi lainnya mengarah pada situasi yang sangat mengkhawatirkan. Tentu kondisi tersebut dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang, baik secara langsung maupun tidak langsung telah dan akan terus mengancam kehidupan dan umat manusia. Oleh sebab itu, perlu ada kesadaran kolektif tentang kelestarian lingkungan hidup ini bukti tanggung jawab moral manusia sebagai warga bumi, dan tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah yang ditugasi Sang Khaliq untuk memelihara bumi ini. 

Memang penyebab terjadinya kerusakan lingkungan atau alam ini disebabkan tidak hanya oleh perilaku manusia, bisa juga terjadi Karena faktor alam, namun menurut para ahli dan peneliti lingkungan dikatakan bahwa sebagin besar kerusakan alam ini disebabkan oleh ulah atau perbuatan manusia (Arifin, 1991;94). 

Sudah saatnya kita harus menghentikan atau mengurangi kerusakana ini dengan cinta dan peduli kepada lingkugan kita dimana kita tinggal. Saat ini di Indonesia riweuh dengan era 4.0, namun konon katanya masyarakat Jepang sudah melewati masa itu. Mereka sudah masuk ke era 5.0 yaitu back to nature atau kembali ke alam, kembali menyatu dan harmoni dengan alam, kesadaran mereka sudah sampai pada level ini. 

Untuk merawat dan melestarikan alam ini perlu upaya yang sungguh-sungguh menyadarkan umat manusia untuk peuduli terhadap alam ini, salah satu upayanya adalah melalui pendidikan. Itulah yang dilakukan oleh negara-negara yang mulai konsen terhadap pelestarian lingkungan hidup. 

Lalu bagaimana saat ini di Indonesia? Sebetulnya dalam sejarah telah mencatat bahwa pada jalur formal pendidikan lingkungan hidup (PLH) secara implisit sudah dimulai sejak penggunaan kurikulum 1975 dengan mengintegrasikanya pendidikan lingkungan hidup pada mata pelajaran yang relevan, dengan S.K. Menteri P dan K No. 008/U/1975. Selanjutnya, pada tahun Tahun 1986, pendidikan lingkungan hidup berdiri sendiri dengan dibentuknya mata pelajaran Pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH).

Saat ini, pendidikan lingkungan hidup secara eksplisit tidak dalam bentuk mata pelajaran tersendiri, tetapi secara inplisit memang masih ada terpadu dengan pelajaran lainnya. Namun sayangnya materi ini “suaranya nyaris tak terdengar”, terhalang oleh target-target akademik pelajaran lain yang lebih “menjajikan”.  Pendidikan saat ini seolah sudah mengalami disorientasi. Bagi sebagian orang tua atau guru bahwa berhasil sekolah jika mampu menyelesaikan soal-soal ulangan dengan nilai baik, terutama perlajaran terntentu yang dianggap sulit.  

Tapi saya kira tidak semua berfikir demikian juga,  saya yakin masih banyak guru dan orang tua berfikir dan menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia, tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik yang ber iman takwa, berakhlak sehat baru cerdas. Tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab, bahwa pendidikan bukan hanya nilai akademik. 

Sejalan dengan hal itu, saat ini ada terobosan baru dalam pendidikan dari Dinas Pendidikan Purwakarta dengan meluncurkan program Tatanen Di Balai Atikan. Dengan menggunakan istilah Sunda, yang spiritnya menurut saya adalah sama dengan pendidikan lingkungan hidup atau PLH pada masa lalu, yaitu menanamkan dan memahamkan kepedulian dan kepekaan terhadap kelestariam alam. Dalam sosialisasinya disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta melalui zoom meeting disampaikan bahwa salah satu programnya adalah setiap sekolah wajib mengadakan program menanam, bentuknya bisa kebun sekolah atau apapun yang bisa dilakukan bercocok tanam. Program ini akan menjadi program penting untuk diimplementasikan dari tingkat PAUD sampai tingkat menengah. 

Saya menangkap program ini bukan sekedar target berkebun di sekolah atau penghijauan sekolah, tetapi seperti di sampaikan di atas, bahwa pendidikan kita harus melahirkan generasi yang mencitintai dan peduli terhadap lingkungannya, agar alam ini lestari, hidup ini menjadi harmoni. Jika kita menebarkan kebaikan pada alam ini, alampun akan memberikan kebaikan pada diri kita. Wallahu a’lam.



Senin, 21 Sep 2020, 11:02:41 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 513 View
BELAJAR DARI RUMAH (BDR) / LEARNING FROM HOME (LFH), MENYENANGKAN - KAH?
Sabtu, 29 Agu 2020, 11:02:41 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 1308 View
OPTIMALISASI PERANAN HUMAS SEKOLAH DI MASA PANDEMI COVID-19
Kamis, 30 Jul 2020, 11:02:41 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 497 View
SPIRITKAN MAKNA QURBAN PADA SISWA SEJAK DINI

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE