HARMONI SEISI BUMI : SMPN 6 PURWAKARTA LESTARIKAN LINGKUNGAN

Jumat, 18 Jun 2021 | 12:31:47 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 452


HARMONI SEISI BUMI : SMPN 6 PURWAKARTA LESTARIKAN LINGKUNGAN
   

Disdik.purwakartakab.go.id – Jajaran Manajemen SMP Negeri 6 Purwakarta gelar Workshop Peningkatan Kompetensi Abad 21 berbasis Tatanen di Bale Atikan, Rabu hingga Sabtu besok (16/06-19/06), di aula UPTD SMPN 6 Purwakarta. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Purwakarta, H. Purwanto, hadir langsung untuk membuka acara sekaligus menyampaikan arahan.

Dari liputan langsung di lokasi, diketahui bahwa kegiata bertajuk "Melestarikan Lingkungan Demi Terciptanya Harmoni Seisi Bumi" ini diikuti oleh seluruh warga sekolah SMPN 6 Purwakarta sebanyak 60 orang.

Bertindak sebagai narasumber, Nurdin Cahyadi, S.Kom dan Patoni, S.Pd., M.Pd. dari Tim Self Learning Institute (SLI) di sesi awal pelatihan, Rabu (16/06).

Kepala SMPN 6 Purwakarta, Irma Silviani, M.Pd. dalam sambutannya mengatakan, workshop Tatanen di Bale Atikan ini merupakan program yang sangat cemerlang.

"Dengan adanya workshop ini seluruh warga sekolah mampu memahami dan juga bisa menambah wawasan, kesadaran hidup ekologis, kapasitas serta kapabilitas bagi para guru pembelajar," ucapnya. 

Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) H. Purwanto dalam sambutannya menuturkan, Tatanen di Bale Atikan" yang di-inisiasi Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta punya manfaat strategis, khususnya dalam konteks pengembangan karakter siswa.

"Jangan sampai sekolah-sekolah melahirkan generasi yang tidak menyadari dan mengenali dirinya sendiri. Sementara kita ketahui bersama pemerintah memiliki Misi untuk sambut generasi Emas 2045. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terwujud jika generasi saat ini tidak dibentuk karakter sekaligus profilnya? Maka dari itu, sekolah harus ikut bertanggung jawab atas hal tersebut. Tatanen di Bale Atikan adalah program yang diarahkan untuk meyambut misi itu,"  

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa salahsatu tujuan dari program Tatanen di Bale Atikan adalah agar anak-anak bisa mengenali dirinya, mengenali lingkungannya.

"Intinya mengenali alamnya. Sekolah harus mengajarkan anak-anak agar tidak mencemari air, tidak buang sampah sembarangan, anak-anak kita juga perlu tahu dan kemudian bisa mengolah tanah. Sebab, sumber daya inilah yang sesungguhnya menjadi potensi bangsa di kemudian hari. Sekolah harus merubah itu semua, sehingga akan tercipta generasi yang lebih baik dan terdepan pada waktunya," paparnya.

TIGA JURANG KESENJANGAN

Dikutip sedikit dari paparan salahsatu narasumber, Nurdin Cahyadi, S.Kom menjelaskan bahwa ada tiga yang menjadi latar belakang Tatanen di Bale Atikan ini lahir yang merupakan lanskap masalah yang menimbulkan tiga kesenjangan, yaitu kesenjangan ekologis (the ecologycal divide) kesenjangan sosial (the social divide) dan kesenjangan spiritual (the spiritual divide).

"Pertama Kesenjangan ekologi tercermin dengan timbulnya kerusakan lingkungan yang mengarah pada situasi yang sangat mengkhawatirkan. Perubahan iklim, pemanasan global, habisnya energi bahan bakar fosil, polusi, privatisasi dan kelangkaan air, berkurangnya keanekaragaman hayati, penggundulan hutan, penurunan dan rusaknya  kualitas tanah produktif, dan rusaknya beberapa habitat baik secara langsung maupun tidak langsung mengancam peradaban umat manusia," jelasnya.

Kedua, sambung dia, adalah Kesenjangan Sosia. Yaitu, suatu keadaan dimana terjadi kesenjangan, ketimpangan atau ketidaksamaan akses untuk memanfaatkan sumber daya yang terjadi dalam suatu masyarakat. 

"Kesenjangan sosial muncul karena penggunaan teknologi,  yang tidak ramah terhadap lingkungan, teknologi yang tidak di filter serta penggunaan yang tidak tepat," ungkapnya.

Selanjutnya, masih dalam ulasannya, yang ketiga adalah esenjangan Spiritual. Yaitu, suatu keadaan dimana manusia kurang memahami dan mengharga seluruh potensi yang diberikan oleh Tuhan kepada dirinya sehingga tidak hadir dalam diri manusia koneksivitas diri dengan Tuhannya. 

"Pergeseran paradigma menjadi faktor utama pemicu kondisi saat ini. Perubahan persepsi manusia yanghanya mendudukkan alam sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, pembangunan yang hanya berorientasi pada modernitas dan industrialis, kesuksesan yanghanya dimanifestasikan sebagai kemakmuran finansial/material, serta persepsi terhadap kearifan lokal yang diposisikan sebagai suatu aturan yang mengikat, kuno,dan tabu. Seharusnya manusia mulai memandang alam sebagai sumber hidup dan penghidupan, di mana orientasi pembangunan manusia ditentukan oleh masyarakat berdasarkan potensi dan tata nilai masyarakat setempat dan aspirasi bersama. Keadaan seperti itu diyakini menciptakan kualitas hidup yang holistik, harmoni dengan diri, harmoni dengan sesama,harmoni dengan alam. Sehingga alam dijadikan sebagai sumber nilai hidup dan kehidupan manusia," begitu runutnya. (NC/Red)



Selasa, 15 Jun 2021, 12:31:47 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 290 View
PURWANTO : PGRI PERLU ADA UNTUK PENINGKATAN KAPASITAS GURU
Jumat, 11 Jun 2021, 12:31:47 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 317 View
Pelatihan Eco-Brick : Terapan Berfaedah Program Tatanen di Bale Atikan
Jumat, 11 Jun 2021, 12:31:47 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 273 View
Purwanto : Guru Harus Inovatif dan Transformatif

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE