Phubbing Smombie dan Nomophobia
Bijak Menggunakan Gagdet dan Tantangan Edukasi di Era Digital

Senin, 12 Nov 2018 | 14:02:21 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 13217


Phubbing Smombie dan Nomophobia
   

disdikpurwakartakab.go.id -- "Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang, karena mereka telah dijadikan oleh Tuhan untuk jaman yang bukan jaman engkau".
(Umar Bin Khatab).

Intensitas pemberitaan dampak negatif gadget di berbagai media massa menjadi inspirasi untuk menghadirkan tulisan sederhana ini. Kemajuan sains dan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan pada semua dimensi kehidupan manusia. Graham Bell sekalipun, tidak mengira suatu saat kemudian, suara dering dari telepon yang diciptakannya (1876) telah mengganggu aktivitas di akhir masa hidupnya. Bahkan, tidak sedikit warga Amerika yang hawatir munculnya adiksi dan problem interaksi sosial. Lompatan sains dan teknologi komunikasi dan informasi kini telah dicapai dengan beragam produk/perangkat teknologi tinggi oleh Martin Cooper (Handphone), Jan Koum (Whats App), Markzuckenberg (Facebooks), dan lain-lain. Mungkin mereka tidak memprediksi masalah sosial, psikologis, dan medis yang menyusul dari temuannya.

Capaian kemajuan sains dan teknologi menandakan berjalannya evolusi kehidupan manusia yang mewarnai kebudayaan dan peradaban jaman. Sejatinya, produk teknologi diciptakan untuk membantu mempermudah dan menyelesaikan masalah kehidupan manusia. Di sisi lain, teknologi juga mampu menghadirkan rumpun problema sosial, mental, dan medikal. Tak heran, kini lahir persimpangan gagasan terkait progrestivitas pada kemajuan dan pragmatisme pada pemanfaatan produk teknologi. Generasi Z (1995-2012) menjadi subjek empuk pengguna gadget yang rawan. Generasi sebelumnya, Generasi Y (1977-1994) dan Generasi X (1966-1975) yang saat ini juga sebagai subjek, berpotensi sama. Namun, dituntut harus mampu mendidik anak-anaknya untuk bijak menggunakan gadget dgn memanfaatkan sisi positifnya dan membuang sisi negatifnya. Karena itu, relevan kiranya kutipan di atas dijadikan bahan refleksi dan kontemplasi.

Frekuensi, intentitas, persepsi fungsi penggunaan gadget yang tidak bijak dan proporsional, telah menimbulkan masalah sosial, mental, dan medikal.  Phubbing dan smombie menjadi salah satu dampaknya. Phubbing kependekan dari phone snubbing mengacu pada perilaku orang yang lebih fokus menggunakan gadget daripada interaksi dengan orang atau lingkungan sekitar. Istilah phubbing ditemukan pada 2012 oleh tim perumus dari kalangan pakar bahasa (leksikon, fonetik), ahli debat, budayawan, dan sosiolog yang berkumpul di Universitas Sydney Australia. Kata phubbing masuk dalam "Kamus Macquarie" sebagai kosakata baru dan dalam setahun istilah tersebut diterima di hampir 180 negara. Phubbing dimaknai juga sebagai tindakan acuh/cuai seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadget ketimbang berinteraksi satu arah, dua arah, atau multiarah. Di Indonesia, Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud memadankan istilah phubbing dengan istilah "mabuk gawai", yaitu sikap cuai atau abai terhadap lawan bicara atau lingkungan sekitar karena terlalu asyik menggunakan gawai.

Lalu, apa smombie? Istilah ini kependekan dari smartphone zombie, sebuah frase yang sebetulnya bisa membuat konotasi tidak sedap bagi pelakunya. Demi mengidentifikasi perilaku, digunakan istilah tersebut. Smombie adalah orang yang terus-menerus menggunakan smartphone, handphone, atau gadget ketika sedang berjalan. Atau pejalan kaki yang memusatkan perhatian pada handphone tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Di Jerman, istilah smombie meraih pengakuan dalam "Youth Word of the Year 2015" (kata populer untuk anak muda tahun 2015). Para smombie layaknya komunitas, sehingga semua orang yang dianggap smombie disebut anggota "suku kepala tertunduk".

Dalam terminologi China, " suku kepala tertunduk" disebut di tou zu. Apabila seseorang sudah menjadi bagian dari sekian banyak smombie atau di tou zu, atau "suku kepala tertunduk", maka disebut juga mu zhi zu, atau anggota kehormatan "suku jempol", yaitu orang yang tidak pernah berhenti mengetik pesan di handphone. Di Jepang, terminologi untuk orang yang lebih lancar menulis pesan di handphone daripada berbicara disebut oyayubizoku, yaitu "klan jempol".

Karakteristik phubbing sedikit berbeda dengan smombie, kendati kedua-duanya masuk kategori "mabuk gawai" atau "kecanduan gadget". Phubbing lebih kepada abai saat berinteraksi, sedangkan smombie abai terhadap lingkungan saat berjalan. Menurut penelitian "Phubbed and Alone" yang dilakukan Meredith David dan James A. Roberts dari Universitas Baylor di Waco, Texas Amerika Serikat, saat ini orang mengecek ponsel 150 kali sehari. Perilaku ini terjadi tidak hanya ketika sedang sendiri, tetapi ketika saat berinteraksi dan bekerja. Pakar komunikasi dari The Hart Centre Australia, Julie Hart, menegaskan bahwa phubbing menumpulkan beberapa faktor dalam hubungan antarpribadi, yaitu tumpulnya kemampuan individu untuk menyimak, tidak membuka diri pada lawan bicara, tidak paham isi pembicaraan, dan tidak melibatkan diri dalam percakapan, sehingga lawan bicara tidak puas dan tidak dihargai.

Phubbing dan smombie melahirkan masalah sosial, mental/psikologis, dan medis. Secara sosial, phubbing merusak hubungan sosial pribadi dalam berinteraksi, antara lain : merendahkan orang lain, cuai/abai/tidak peduli lawan bicara, tidak menghargai lawan bicara, meremehkan topik pembicaraan, menimbulkan ketidaksukaan lawan bicara akibat diabaikan, tumpul simpati dan empati, ketersinggungan, dan ketidakpuasan percakapan yang hambar. Sementara, smombie menimbulkan anti sosial, keterasingan diri, berkurangnya interaksi pribadi dan sosial, dan abai akan keselamatan diri. Dari segi mental, kedua-duanya merupakan kecanduan yang termasuk kategori disorder due to addictive behavior, yaitu penyakit akibat kecanduan atau ketergantungan pada gadget dengan ciri : tidak bisa mengendalikan diri, memprioritaskan gadget untuk berselancar di dunia maya, susah berhenti walau tahu konsekuensi negatifnya, dan takut kehilangan info tanpa menggunakan handphone. Secara medis, nama penyakit mabuk gawai ini ialah nomophobia (no-mobilephone phobia), yaitu kecemasan berlebihan akibat tidak membawa dan menggunakan handphone. Penyakit lain muncul akibat mata sering terpapar radiasi yang memancar dari cahaya pada layar gadget. Selain itu, radiasi dari energi elektrik pada organ tubuh tertentu.

Di era digital ini, keriuhan percakapan banyak terjadi di dunia maya, sedikit di dunia realita. Kemajuan sains dan teknologi tidak bisa dibendung, kebijakan penggunaannya yang menjadi tulang punggung. Dampak negatif gadget menjadi tantangan bersama. Peran tripusat pendidikan dalam membimbing anak sangat penting. Sekolah, orang tua, masyarakat harus bersama-sama berperan meminimalisasi dampak negatif gadget. Kebijakan, regulasi, program sosialisasi terkait penggunaan gadget diperlukan. Keteladanan, perhatian,  pengawasan, pembimbingan orang tua terhadap anak-anaknya juga diperlukan. Demikian pula seluruh masyarakat harus bersama-sama lebih bijak memafaatkan gadget untuk membantu masalah kehidupan, bukan merusak kehidupan. Semoga tidak terjadi ilustrasi kasus berikut :

"Banyak orang tua yang menjewer anaknya karena telah merusak HP-nya, tapi belum ada orang tua yang melempar HP-nya karena telah merusak anaknya."

Semoga bermanfaat.
Referensi dari berbagai sumber.

Cucu Agus Hidayat, S.Pd., M.Pd.
(Kepala SMPN 3 Tegalwaru Purwakarta).



Kamis, 01 Nov 2018, 14:02:21 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 25706 View
PERANAN ADMINISTRASI BAGI KINERJA GURU
Kamis, 01 Nov 2018, 14:02:21 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 3222 View
SINERGI TU DAN GURU MODAL UTAMA KESUKSESAN SEKOLAH
Senin, 17 Sep 2018, 14:02:21 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 1767 View
MENULIS WUJUDKAN KARYA BRILLIANT

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE