HARMONI SEISI BUMI (Part 2)

Rabu, 20 Jan 2021 | 11:47:39 WIB - Oleh Nurdin Cahyadi, S.Kom | Dibaca 609


HARMONI SEISI BUMI (Part 2)
   

Peluncuran program Tatanen di Bale Atikan hari ini, Rabu, 20/01/2021 semakin membuktikan bahwa Purwakarta sebagai kabupaten yang memang Istimewa. Berbagai inovasi, kreasi, dan inisiasi telah lahir dari bumi dan budaya masyarakat Purwakarta. Purwakarta selalu terdepan dalam melakukan upaya perubahan dan perbaikan. Menyikapi kemerosotan moral generasi penerus bangsa, Purwakarta yang pertama menggaungkan pendidikan karakter bagi peserta didik. Gayung bersambut, terobosan pendidikan karakter tersebut mendapatkan momentum dengan digulirkannya pemberlakuan suplemen pendidikan karakter pada masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono. 

Pendidikan karakter menjadi fokus perhatian akademisi dan pemerintah karena memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, karena itu ketika pemerintahan berganti pendidikan karakter semakin diperkuat. Presiden Joko Widodo yang menggantikan pemerintahan sebelumnya mengeluarkan sebuah gerakan penguatan pendidikan karakter yang disebutnya dengan revolusi mental. 

Pada periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo, dalam bidang pendidikan dikembangkan sebuah paradigma *merdeka belajar*, dengan paradigma ini peserta didik tidak dibebani dengan angka-angka yang harus dicapai, tetapi lebih diutamakan bisa apa selepas menempuh pembelajaran,  apa kontribusi yang bisa diberikan bagi perbaikan diri sendiri, lingkungan, dan negara. Untuk mewujudkan target tersebut, guru pun dituntut harus merdeka dalam mengelola pembelajarannya, tidak dibebani dengan tugas-tugas administratif dan formalistik, guru harus bebas dari berbagai hal yang membelenggu kreativitas, dan guru pun harus berani keluar dari zona nyaman untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif.

Merespon kebijakan pemerintah pusat, Purwakarta semakin mempercepat akselerasi dalam melakukan berbagai inovasi untuk memperkuat pendidikan karakter.   Lima model pendidikan karakter yang dikembangkan di Purwakarta, mulai dari Tujuh Poe Atikan Purwakarta Istimewa, Pendidikan Anti Korupsi, Agama Keagamaan dan Pengkajian Kitab-Kitab, Sekolah Ramah Anak, dan terakhir Tatanen di Bale Atikan. Kelimanya merupakan satu kesatuan yang integral untuk diimplementasikan oleh semua satuan pendidikan yang menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Kab. Purwakarta.

Tatanen di Bale Atikan merupakan program yang sudah lama dirintis dan baru di-launching pada hari ini, Rabu, 20/01/2021. Secara etimologis Tatanen di Bale Atikan dapat diartikan sebagai kegiatan bertani di sekolah, sedangkan secara terminologis didefinisikan sebagai _gerakan pendidikan karakter untuk menumbuhkan kesadaran hidup ekologis dalam merawat bumi dan berguru pada bumi yang terintegrasi dalam kegiatan pertanian berbasis Pancaniti, sehingga peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai kodrat dirinya, kodrat alamnya, dan kodrat zamannya._

Setelah resmi diluncurkan, semua satuan pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta diwajibkan untuk mengimplementasikan program Tatanen di bale Atikan secara integral dalam upaya memperkuat karakter peserta didik. Dalam sambutannya kepala Dinas Pendidikan Kab. Purwakarta, Dr. H. Purwanto, M.Pd. menegaskan bahwa  Tatanen di Bale Atikan harus menjadi gerakan kolektif semua stakeholder pendidikan. Adapun _Output_ dari gerakan tersebut adalah lahirnya generasi yang cinta terhadap tanahnya, airnya, udaranya, dan mataharinya, sehingga terbentuk _chemistry_ yang harmonis antara diri peserta didik dengan lingkungannya. Karena itu, yang menjadi jargon penyemangat dalam program Tatanen di bale Atikan adalah, *Harmoni Seisi Bumi*.

Simbolisasi untuk menunbuhkan kecintaan terhadap lingkungan, pada saat _launching_ diserahkan bibit sorghum atau gandrung. Dalam bahasa Sunda Gandrung memiliki arti cinta, rindu, atau selalu terbayang dan dipikirkan. Bibit tanaman tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Purwakarta, Ambu Anne Ratna Mustika, S.E. beliau mendukung penuh dan berharap program Tatanen di bale Atikan dapat melahirkan generasi yang peduli pada pertanian, sehingga dapat memaksimalkan lahan pertanian di Kab. Purwakarta secara produktif, pada kesempatan tersebut beliau juga memotivasi semua stakeholder pendidikan bahwa kegiatan bertani menjadi gaya hidup masyarakat modern saat ini, beliau mencontohkan dengan kepala Dinas Pendidikan sendiri yang giat menghiasi pekarangan rumahnya dengan berbagai jenis tanaman dan dikonsumsi sendiri, sehingga menjadi sehat dan kuat.

Peluncuran program Tatanen di Bale Atikan oleh Dinas Pendidikan Kab. Purwakarta mendapat Apresiasi tersendiri dari Pusat Pengembangan Karakter Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Hendarman Supandji, Ph.D. beliau menegaskan bahwa Purwakarta selalu menjadi yang pertama dalam hal inovasi yang berbeda dengan daerah lain. Purwakarta membangun sebuah ekosistem pendidikan yang melibatkan semua pihak, masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan seluruh stakeholder pendidikan. Dari berbagai upaya penguatan pendidikan karakter, termasuk melalui program Tatanen di bale Atikan, beliau berharap mampu melahirkan profil pelajar Pancasila yang beriman dan berketuhanan, berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan, dan gotong royong.

_SepR_20/012021



Kamis, 26 Nov 2020, 11:47:39 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 890 View
HARI GURU NASIONAL DAN PGRI Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar
Selasa, 24 Nov 2020, 11:47:39 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 499 View
SASTRA DAN PERKEMBANGAN INSANI SISWA
Selasa, 24 Nov 2020, 11:47:39 WIB Oleh : Nurdin Cahyadi, S.Kom 17848 View
Kompetensi literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) dalam AKM

Tuliskan Komentar
INSTAGRAM TIMELINE