“Manajemen berbasis Deep Talk bukan tentang mengarahkan tugas, melainkan tentang menumbuhkan kepercayaan; bukan tentang memberi tahu orang apa yang harus dilakukan, melainkan tentang terlibat dalam dialog yang jujur; bukan tentang menggunakan wewenang, melainkan tentang memberdayakan orang untuk berbicara, berefleksi, dan tumbuh bersama.” _Iip Syarip Hidayat
Dalam berorganisasi baik sebuah lembaga pemerintah, swasta, publik, maupun lembaga pendidikan dibutuhkan sebuah strategi khusus agar terjalin kekuatan kerjasama dan produktivitas antara satu sama lain. Sehingga akan bisa lebih memperoleh tujuan yang di inginkan. Namun dalam praktiknya hal tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dibutuhkan strategi khusus untuk menguraikan permasalahan tersebut. Selama ini terjadi komunikasi satu arah antara pemimpin dan pegawai, sehingga cenderung hanya menerima sebuah perintah saja tanpa dilibatkan secara langsung dan berkomunikasi secara efektif antara keduanya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggunakan strategi “ manajemen berbasis Deep Talk”. Kenapa harus manajemen berbasis Talk ? Karena banyak kasus terjadi misskomunikasi akibat dari adanya komunikasi yang kurang baik antar sesama pegawai baik dengan pemimpin maupun dengan lainya. Sehingga hal inilah yang memicu sebuah masalah internal di sebuah lembaga.
Kita sering terjebak dalam mengelola sebuah organisasi, manajemen tradisional sering berfokus pada struktur, prosedur, target, dan kontrol. Namun, dalam lingkungan organisasi modern yang kompleks, kebutuhan karyawan atau anggota tim agar “didengar”, memiliki ruang refleksi, dan hubungan personal yang autentik semakin penting. Konsep Deep Talk (percakapan mendalam) yang awalnya dikembangkan dalam konteks pendidikan dan komunitas dapat menjadi landasan baru dalam manajemen — yaitu manajemen berbasis dialog mendalam, yang menekankan kualitas komunikasi, refleksi bersama, empati, dan pengembangan relasi yang menyeluruh.
Apa itu konsep manajemen berbasis Deep Talk ?
Deep Talk sendiri adalah metode dialogik yang menggunakan cerita-cerita yang diceritakan lewat objek simbolis sebagai pemicu percakapan. Metode ini bertujuan menciptakan ruang bagi peserta untuk mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sendiri dan kemudian berdialog secara reflektif. (
sheffield.ac.uk+1). Dalam konteks manajemen, ide pokoknya adalah: bukan hanya “berbicara” tentang tugas dan hasil, tetapi menginisiasi percakapan yang memungkinkan makna, nilai, dan emosi untuk muncul –
menjadikan manajemen sebagai fasilitator dialog dan pertumbuhan bersama. Secara keseluruhan seaya menyimpulkan bahwa Manajemen berbasis Deep Talk adalah konsep yang menekankan pentingnya komunikasi yang mendalam, jujur, dan bermakna dalam setiap aspek pengelolaan organisasi atau tim. Ini bukan sekadar percakapan biasa, tapi fokus pada dialog yang menyentuh akar permasalahan, motivasi, nilai-nilai, dan tujuan yang lebih dalam.
Jadi manajemen berbasis Deep Talk adalah sebuah pendekatan dimana seorang pemimpin lebih menekankan pada komunikasi terbuka, kolaborasi, dan diskusi yang produktif di dalam organisasi. Konsep ini berakar pada pemahaman bahwa komunikasi yang efektif adalah fondasi dari pengambilan keputusan yang baik, penyelesaian masalah, dan pencapaian tujuan organisasi. Dalam istilah sunda sering dikatakan “Ngobrol hal anu leuwih jero supaya taya gantar kakaitan” yang artinya berkomunikasi secara mendalam supaya tidak ada hal yang menjadi ganjalan antara satu sama lain terkait sebuah pekerjaan.
Dijelaskan dalam Al -quran, “ Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas” (QS. Al-Isra/17:28). Senada dengan ayat itu, Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 263 memerintahkan untuk berkomunikasi dengan baik terhadap orang yang meminta. Dikutif dari hadist riwayat Bukari dan Muslim "Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke Surga. Seseorang senantiasa berkata jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (Shiddiq)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi sangat jelas di sini bahwa komunikasi yang baik itu sangat penting dan bahkan dianjurkan dalam Al – quran dan hadist sekalipun. Maka strategi dalam bergorganisasi yang saya gunakan adalah dengan menggunakan “Manajemen Berbasis Deep Talk”. Agar bisa meningkatkan kualitas berkomunikasi, mendorong kolaborasi dan inovasi, meningkatkan keterlibatan pegawai, penyelesaian masalah dengan cepat dan efesien dan juga mengambil keputusan yang baik.
Dalam pengambilan sebuah keputusan seringkali kita terjebak dalam egosentris seorang pemimpin dan kurang mendengarkan dari arah lawan bicara kita, maka disinilah petingnya kemampuan mendengar atau menjadi seorang pendengar yang biak ketika menjadi seorang pemimpin.
Konsep Deep Talk (Komunikasi Mendalam) dan penerapannya dalam manajemen modern sering dikaitkan dengan ide-ide seperti kerentanan (vulnerability), rasa aman psikologis (psychological safety), dan komunikasi yang otentik. James Kouzes & Barry Posner (2017) Dalam penelitian mereka tentang kepemimpinan, Kouzes dan Posner menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam membangun hubungan yang kuat antara pemimpin dan tim. "Manajemen berbasis Talk Deep adalah praktik yang memastikan keterbukaan dalam komunikasi, di mana para pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan secara aktif." Sumber: Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2017). The Leadership Challenge: How to Make Extraordinary Things Happen in Organizations. Wiley.
Menurut Sue Patton Thoele, Psikoterapis dan Penulis. mengemukakan bahwa manajemen berbasis Deep Talk adalah "Mendengarkan secara mendalam (Deep listening) itu ajaib, baik bagi pendengar maupun pembicara. Ketika seseorang menerima kita dengan pendengaran yang terbuka, tidak menghakimi, dan penuh minat, semangat kita mengembang."
Terkait komunikasi yang baik Drucker mengemukakan bahwa manajemen berbasis komunikasi adalah tentang "penggunaan komunikasi sebagai alat utama untuk mengelola organisasi secara efektif." Komunikasi harus difasilitasi di setiap tingkatan, dari atasan ke bawahan, antar divisi, hingga ke klien, untuk memastikan organisasi berjalan dengan baik. Drucker, P. F. (2008). Management: Tasks, Responsibilities, Practices. Harper & Row.
Dikemukakan juga oleh Mintzberg menyatakan bahwa manajemen yang efektif melibatkan komunikasi yang terus-menerus antara manajer dan karyawan. Menurutnya, "Manajemen berbasis Deep Talk adalah pendekatan di mana komunikasi berfungsi sebagai mekanisme utama untuk koordinasi dan pengambilan keputusan, serta merupakan alat untuk membangun hubungan yang lebih kuat dalam organisasi." Sumber: Mintzberg, H. (2010). Managing. Berrett-Koehler Publishers.
Dari beberapa tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen berbasis Deep Talk dapat didefinisikan secara umum sebagai pendekatan manajemen yang mengutamakan komunikasi sebagai alat utama dalam pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan peningkatan keterlibatan karyawan dalam organisasi. Para ahli di atas memberikan pandangan bahwa komunikasi yang efektif memainkan peran sentral dalam menciptakan organisasi yang tangguh, inovatif, dan kolaboratif.
a. Alasan kenapa harus menggunakan manajemen berbasis Deep Talk
Manajemen berbasis Talk menjadi penting karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kebutuhan organisasi modern yang dinamis dan berorientasi pada kolaborasi. Berikut adalah beberapa alasan mengapa manajemen berbasis Talk sangat relevan:
a. Meningkatkan Kualitas Komunikasi
b. Mendorong Kolaborasi dan Inovasi
c. Meningkatkan Keterlibatan pegawai
d. Penyelesaian Masalah Lebih Cepat dan Efisien
e. Fleksibilitas dalam Merespons Perubahan
f. Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik
g. Membangun Kepercayaan dan Transparansi
h. Mengurangi Konflik.
Berikut ini manfaat yang dapat dicapai melalui manajemen berbasis Deep Talk:
1. Peningkatan Keterbukaan dan Kepercayaan
Dengan memberi ruang bagi anggota tim untuk berbicara dari hati, manajer memperlihatkan bahwa suara mereka dihargai. Ini dapat memperkuat psychological safety.
2. Pemahaman Nilai & Makna Bersama
Dialog mendalam membantu mengungkap nilai-nilai bersama, konflik yang tersembunyi, dan harapan yang tidak diungkapkan. Hal ini memungkinkan penyamaan makna.
3. Empati dan Pemahaman Kontekstual
Melalui cerita dan refleksi, manajer dan anggota dapat lebih memahami pengalaman subjektif satu sama lain, yang dapat memperkaya keputusan manajerial.
4. Peningkatan Kreativitas dan Inovasi
Karena dialog mendalam membuka ruang ide “tersembunyi” dan perspektif alternatif, hal ini bisa memicu gagasan inovatif.
5. Keterkaitan Keputusan & Kepemilikan
Ketika sebuah keputusan dibahas melalui dialog mendalam, anggota tim lebih cenderung merasa ikut memiliki keputusan dan terlibat dalam pelaksanaannya.
6. Budaya Komunikasi Berkelanjutan
Jika digunakan secara konsisten, penggunaan frasa dan pola dialog akan melekat dan membentuk budaya organisasi (efek transfer) seperti yang ditemukan di penelitian Deep Talk.
Melalui Manajemen berbasis Deep Talk ini maka saya bisa menjalankan program – program sekolah dengan baik dan lancar. Pendekatan ini sangat efektif dalam mengelola lembaga sekolah. Dengan komunikasi secara terbuka, menerima dan mendengar masukan dari internal mau pun eksternal. Manajemen berbasis Deep Talk menawarkan solusi manajerial yang lebih adaptif dan kolaboratif untuk menghadapi dinamika organisasi modern saat ini. Pendekatan mengedepankan komunikasi sebagai elemen penting dalam menciptakan organisasi yang tangguh, inovatif, dan responsif terhadap perubahan.
Pendekatan ini juga lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan keterlibatan para guru dalam organisasi. Ketika para guru merasa didengarkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, maka tingkat kepuasan kerja mereka meningkat, begitu pula loyalitas terhadap sekolah.
Daftar Pustaka
Al -Quran QS. Al-Isra/17:28
Drucker, P. F. (2008). Management: Tasks, Responsibilities, Practices. Harper & Row.
Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2017). The Leadership Challenge: How to Make Extraordinary Things Happen in Organizations. Wiley.