image

Admin

18 Agustus 2026

21x Dilihat
Dinas Pendidikan Purwakarta Perkuat Budaya Mutu melalui Rapat Koordinasi SPMI
Pendidikan_Kita — Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta melalui Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar menyelenggarakan Rapat Koordinasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bersama Kepala Sekolah Dasar (SD) Se-Kab. Purwakarta pada 18–21 Agustus 2026, bertempat di Aula SMPN 1 Purwakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya mutu dan meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan dasar (SD) di Kabupaten Purwakarta. 

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Sadiyah, M.Pd. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas didampingi oleh Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar, Dr. Dede Supendi, M.Pd., serta Kepala Seksi Kelembagaan dan Penjaminan Mutu, Emmalia, S.Pd. 

Rapat koordinasi menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang penjaminan mutu pendidikan, yakni dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Barat, Akademisi dari Perguruan Tinggi di Purwakarta, serta Dinas Pendidikan Kab. Purwakarta. 

Dalam sambutannya, Sadiyah, M.Pd. menegaskan bahwa penjaminan mutu pendidikan harus ditempatkan sebagai bagian integral dari tata kelola satuan pendidikan, bukan sekadar pemenuhan administrasi. 

 “SPMI harus menjadi budaya kerja di satuan pendidikan. Penjaminan mutu bukan hanya tentang kelengkapan dokumen, tetapi bagaimana sekolah mampu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data, menentukan prioritas, melakukan perbaikan, dan memastikan perubahan tersebut memberikan dampak nyata terhadap kualitas layanan pendidikan,” ujar Sadiyah. 

 Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan membutuhkan komitmen dan kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengawas, Dinas Pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan harus memiliki pemahaman dan komitmen yang sama dalam membangun budaya mutu. 

 “Kita ingin SPMI menjadi proses yang hidup dan berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan harus mampu melakukan refleksi terhadap kondisi nyata, menyusun program berdasarkan kebutuhan, melaksanakan perbaikan, kemudian melakukan evaluasi secara berkelanjutan,” tambahnya. 

 Lebih lanjut, Sadiyah mendorong agar hasil rapat koordinasi tidak berhenti pada pemahaman konseptual maupun penyusunan dokumen, tetapi diterjemahkan menjadi rencana aksi dan praktik nyata di satuan pendidikan. 

 Rapat koordinasi tersebut juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai implementasi SPMI, berbagi praktik baik, mengidentifikasi tantangan penjaminan mutu, serta merumuskan strategi peningkatan mutu yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. 

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dr. Dede Supendi, M.Pd. menyampaikan bahwa penguatan SPMI perlu diarahkan pada perubahan pola pikir dan pola kerja satuan pendidikan. 

 “SPMI harus mampu mengubah budaya sekolah dari sekadar memenuhi administrasi menjadi budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Data harus menjadi dasar dalam mengidentifikasi masalah, menentukan intervensi, serta mengukur keberhasilan program peningkatan mutu,” ungkap Dede. 

 Ia menambahkan, penguatan mutu pendidikan dasar tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan koordinasi, sinergi, dan kolaborasi antara Dinas Pendidikan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, serta berbagai stakeholder pendidikan. 

Melalui kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta berharap terbangun pemahaman yang lebih kuat mengenai SPMI sekaligus menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat budaya mutu pada satuan pendidikan. 

Dengan demikian, SPMI diharapkan tidak hanya menjadi mekanisme evaluasi internal, tetapi menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan satuan pendidikan yang bermutu, aman, nyaman, berkarakter, dan mampu memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setiap peserta didik di Kabupaten Purwakarta. 

Bagaimana Kesan Anda?

Berikan suara Anda untuk membantu kami meningkatkan pengalaman pengguna.

Sangat Buruk

Sangat Buruk (20%)

Buruk

Buruk (0%)

Cukup

Cukup (0%)

baik

Baik (20%)

Sangat baik

Sangat Baik (60%)