Pendidikan_Kita — Pendidikan Kabupaten Purwakarta dikenal dengan Pembelajaran Karakter yang dinamakan 5 Bunga Karakter yang terdiri dari 7 Poe Atikan, Sekolah Ramah Anak, Pendidikan Anti Korupsi, Tatanen di Bale Atikan dan Agama Keagamaan dan Pendalaman Kitab (AKPK).
AKPK merupakan gagasan yang dikembangkan dari pemikiran dan ide Dedi Mulyadi atau biasa dipanggil KDM tahun 2015 saat masih menjabat Bupati Purwakarta. Di tahun itu, KDM mewajibkan sekolah menyiapkan ruangan untuk peserta didik untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Program pembelajaran ini tidak hanya memberikan ruang untuk beribadah tetapi juga untuk menanamkan toleransi dan bentuk kerukunan beragama peserta didik.
Salah satu sekolah yang terus memperkuat dan mengimplementasikan AKPK adalah SMP Negeri 5 Purwakarta. Sekolah yang dipimpin oleh Hj. Neneng M. Fatimah menyediakan ruangan khusus untuk peserta didik yang beragama selain Islam. Tidak hanya ruangan, terdapat juga guru AKPK untuk mengajar agama-agama tersebut antara lain untuk Pendidikan Agama Katolik, Paulus Bambang Iriyanto dan Yuni Sri sebagai Pengajar Pendidikan Agama Protestan.
Terdapat 3 (tiga) ruangan ibadah yaitu Ruang Eklsesia bagi peserta didik agama Kristen Protestan, Ruang Santo Ignatius bagi peserta didik agama Kristen Katolik dan Ruang Padmasari untuk peserta didik agama Hindu. Untuk tahun 2026 hanya 2 agama yang ruangannya digunakan yaitu Protestan dan Katolik dikarenakan tidak ada peserta didik beragama Hindu.
Neneng menjelaskan sekolahnya terus memperkuat implementasi pendidikan karakter melalui pembelajaran AKPK dengan memberikan ruang yang setara bagi seluruh peserta didik. Kegiatan keagamaan dilaksanakan sesuai agama masing-masing, dengan peserta didik Muslim menggunakan masjid, sementara peserta didik Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan Hindu mendapatkan ruang untuk kegiatan pendalaman keagamaan.
“Karena peserta didik kami berasal dari berbagai agama, kami berupaya memberikan fasilitas agar mereka dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dan pendalaman kitab sesuai keyakinannya masing-masing. Ini bagian dari penguatan karakter sekaligus pembelajaran toleransi,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai toleransi juga diterapkan dalam berbagai aktivitas sekolah. Peserta didik dibiasakan untuk saling menghargai dan bekerja sama tanpa membedakan latar belakang agama, antara lain melalui kegiatan menjaga kebersihan, penataan lingkungan, bercocok tanam, serta kegiatan gotong royong lainnya.
“Alhamdulillah, toleransi antarumat beragama di SMP Negeri 5 Purwakarta berjalan dengan baik. Anak-anak dapat bekerja sama dalam pembelajaran maupun berbagai kegiatan sekolah,” tambahnya.
Sementara itu, pendamping pembelajaran agama Katolik, mengapresiasi dukungan sekolah dalam menyediakan ruang kegiatan keagamaan. Menurutnya, fasilitas tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperkuat pemahaman dan iman sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati.
Melalui penguatan pendidikan karakter tersebut, SMP Negeri 5 Purwakarta berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan menghargai keberagaman, sehingga peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter yang kuat serta mampu hidup berdampingan dalam semangat toleransi dan gotong royong.